Sampah merupakan masalah
yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia. Tidak hanya di Negara-negara
berkembang, tetapi juga di Negara-negara maju, sampah selalu menjadi masalah.
Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton
sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau
ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa diapa-apakan lagi.
Dari hari ke hari sampah itu terus menumpuk dan terjadilah bukit sampah seperti
yang sering kita lihat.
Sampah yang menumpuk
itu, sudah tentu akan mengganggu penduduk di sekitarnya. Selain baunya yang
tidak sedap, sampah sering dihinggapi lalat. Dan juga dapat mendatangkan wabah
penyakit. Walaupun terbukti sampah itu dapat merugikan, tetapi ada sisi manfaatnya.
Hal ini karena selain dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat, sampah juga
dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Kemanfaatan sampah ini tidak
terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menanganinya.
Yaitu dengan cara mengolah sampah agar bermanfaat seperti kompos.
Sampah Organik adalah
merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh
pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi masih bisa dipakai kalau dikelola dengan
prosedur yang benar. Organik adalah proses yang kokoh dan relatif cepat. Sampah
organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai
menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos).
Kompos merupakan hasil
pelapukan bahan-bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, sampah,
rumput, dan bahan lain yang sejenis yang proses pelapukannya dipercepat oleh
bantuan manusia. Sampah pasar khusus seperti pasar sayur mayur, pasar buah,
atau pasar ikan, jenisnya relatif seragam, sebagian besar (95%) berupa sampah
organik sehingga lebih mudah ditangani. Sampah yang berasal dari pemukiman
umumnya sangat beragam, tetapi secara umum minimal 75% terdiri dari sampah
organik dan sisanya anorganik.
Jenis-Jenis Sampah
Organik
Sampah organik berasal
dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, Sampah organik
sendiri dibagi menjadi :
- Sampah organik basah.
Istilah sampah organik
basah dimaksudkan sampah mempunyai kandungan air yang cukup tinggi.
Contohnya kulit buah dan sisa sayuran.
- Sampah organik kering.
Sementara bahan yang
termasuk sampah organik kering adalah bahan organik lain yang kandungan airnya
kecil. Contoh sampah organik kering di antaranya kertas, kayu atau ranting
pohon, dan dedaunan kering.
Prinsip Pengolahan
Sampah
Berikut adalah
prinsip-prinsip yang bisa diterapkan dalam pengolahan sampah. Prinsip-prinsip
ini dikenal dengan nama 4R, yaitu:
- Mengurangi (bahasa
Inggris: reduce)
Sebisa mungkin
meminimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita
menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
- Menggunakan kembali
(bahasa Inggris: reuse)
Sebisa mungkin pilihlah
barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang
sekali pakai, buang (bahasa Inggris: disposable).
- Mendaur ulang (bahasa
Inggris: recycle)
Sebisa mungkin,
barang-barang yang sudah tidak berguna didaur ulang lagi. Tidak semua barang
bisa didaur ulang, tetapi saat ini sudah banyak industri tidak resmi (bahasa
Inggris: informal) dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi
barang lain.
- Mengganti (bahasa
Inggris: replace)
Teliti barang yang kita
pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan
barang yang lebih tahan lama.
Pengolahan Sampah
Metode-Metode yang
biasanya sering digunakan dalam pengelolaan sampah yaitu sebagai berikut :
1. Pembuangan terbuka
(Open Dumping)
Diantara beberapa cara
pengelolaan sampah yang akan dijabarkan, pembuangan terbuka merupakan
pengelolaan sampah yang paling sederhana, yaitu dengan cara mengumpulkan sampah
yang ada pada suatu tempat yang telah disiapkan. Kelebihan serta kekurangan
dari cara pengelolaan sampah dengan cara pembuangan terbuka adalah sebagai
berikut :
Kelebihan
Investasi awal serta
biaya operasional yang relatif rendah;
Tidak membutuhkan
peranan teknologi yang tinggi;
Dapat menampung
berapapun sampah yang ada tergantung dari luasan lahan;
Tidak perlu mengumpulkan
secara terpisah;
Tempat pembuangan
sampahnya masih dapat digunakan untuk kepentingan lainnya misalnya lapangan,
tempat parkir dan sebagainya.
Kekurangan
Menimbulkan pencemaran
lingkungan yang cukup besar;
Pilihan lokasi
pembuangannya harus jauh dari kawasan permukiman serta kegiatan-kegiatan
perkotaan lainnya yang berakibat tingginya biaya transportasi yang perlu
dikeluarkan;
Kebutuhan akan lahan
yang cukup besar;
Lokasi pembuangan sampah
yang digunakan dimanfaatkan lebih lama disebabkan sampah yang ada tidak
dipadatkan terlebih dahulu.
2. Penimbunan Saniter
(Sanitary Landfill)
Berbeda dengan
pembuangan terbuka, cara pengelolaan sampah penimbunan saniter lebih sedikit
mengakibatkan tercemarnya lingkungan dikarenakan sampah yang ada dipadatkan
terlebih dahulu sebelum ditimbun dengan tanah. Kelebihan dan kekurangan
pengelolaan sampah dengan cara penimbunan saniter adalah sebagai berikut :
Kelebihan
Tidak membutuhkan
peranan teknologi yang tinggi;
Investasi awal
serta biaya operasional yang relatif rendah;
Kekurangan
Pilihan lokasi
pembuangannya harus jauh dari kawasan permukiman serta kegiatan-kegiatan
perkotaan lainnya yang berakibat tingginya biaya transportasi yang perlu
dikeluarkan;
Seperti pembuangan
terbuka, pengelolaan dengan cara ini juga memerlukan lahan yang luas;
Pencemaran terhadap air
tanah jauh lebih besar dibandingkan dengan pembuangan terbuka, oleh karena itu
pemilihan lokasi sedapat mungkin yang jauh dari kemungkinan mencemari air
tanah;
3. Pembuatan Kompos
(Composting)
Pembuatan kompos dapat
dikatakan juga dengan "daur ulang", akan tetapi penggunaannya sudah
berubah dari kebutuhan sebelumnya menjadi pupuk untuk tanaman. Kelebihan dan
kekurangan pengelolaan sampah dengan cara pembuatan kompos adalah sebagai berikut
:
Kelebihan
Penggunaan lahan yang
jauh lebih sempit dibandingkan dengan 2 metode diatas;
Setelah selesai
dikelola, hasilnya dapat digunakan untuk memupuki tanaman;
Cara yang relatif murah
untuk jumlah sampah yang besar akan tetapi dengan fluktuasi sampah yang kecil
Kekurangan
Memerlukan biaya
investasi awal yang jauh lebih besar dibandingkan dengan 2 metode sebelumnya;
Memerlukan biaya
operasional yang relatif tinggi, dan juga dapat menjadi lebih tinggi lagi
apabila sampah yang diolah kapasitasnya lebih kecil dari kapasitas instalasi
pembuatan kompos;
Bahan yang tidak dapat
diolah menjadi pupuk kompos, terpaksa harus menjadi sampah lagi;
Dari poin ke-3 dapat
disimpulkan bahwa tidak semua jenis sampah dapat dikelola;
Untuk kebutuhan jangka
panjang, cara ini sangat tidak efektif karena pada masa yang akan datang,
jumlah sampah yang tidak dapat diolah menjadi pupuk kompos menjadi lebih besar;
4. Pemanfaatan Ulang
atau Daur Ulang (Recycling)
Cara ini digunakan agar
membuat sampah yang ada menjadi memiliki nilai ekonomis setelah dikelola.
Sampah yang biasanya dikelola dengan cara daur ulang adalah sampah-sampah
anorganik. Kelebihan dan kekurangan pengelolaan sampah dengan cara daur ulang
adalah sebagai berikut :
Kelebihan
Tidak membutuhkan lahan
yang besar;
Bahan yang telah didaur
ulang dapat digunakan lagi;
Metode ini memberikan
kesempatan kerja bagi para pemulung.
Kekurangan
Memerlukan biaya
investasi yang besar serta biaya operasional yang juga lumayan tinggi;
Pasokan sampah harus
memiliki jumlah yang besar dan selalu konstan;
Tidak semua jenis sampah
dapat di daur ulang;
Sampah yang tidak dapat
di daur ulang terpaksa tetap menjadi sampah dan harus dikelola dengan cara yang
lainnya atau dibuang;
Tidak cocok untuk
kebutuhan jangka panjang, karena jumlah sampah yang tidak dapat di daur ulang
akan bertambah banyak.
Dari beberapa cara
pengelolaan sampah tersebut, perlu dipikirkan secara matang kelebihan dan
kekurangannya sebelum diaplikasikan ke dalam setiap kegiatan pengelolaan
sampah, karena setiap cara pengelolaan sampah tergantung dari beberapa faktor
yang dipertimbangkan, entah itu dari sisi biaya, ketersediaan lahan dan
sebagainya.
Dalam pengelolaan
sampah, terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi. Faktor - Faktor yang
dapat mempengaruhi pengelolaan sampah tersebut diantaranya adalah sebagai
berikut :
- Distribusi serta kepadatan penduduk;
- Rencana penggunaan lahan (land use);
- Kebiasaan masyarakat setempat;
- Karakteristik lingkungan fisik, sosial serta ekonomi;
- Karakteristik dari sampah tersebut;
- Kebijakan atau peraturan dari wilayah setempat;
- Ketersediaan sarana seperti sarana pengumpulan,
pengangkutan dan pengolahan maupun sarana pembuangan;
- Lokasi tempat pembuangan akhir;
- Ketersediaan dana;
- Rencana tata ruang wilayah setempat serta pengembangan
kota;
- Klimatologi.
Untuk menangani
permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif
pengelolaan. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill
tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan
alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan
pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali
ke ekonomi masyarakat atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap
sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan
sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. Daripada
mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus
meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama.
Sampah yang dibuang harus
dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara
optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti
yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk
mereka untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip ini berlaku
untuk semua jenis dan alur sampah.
Pembuangan sampah yang
tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa
dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi/ mencemari
bahan-bahan yang mungkin masih bisa di daur-ulang dan racun dapat menghancurkan
kegunaan dari keduanya. Sebagai tambahan, suatu porsi peningkatan alur limbah
yang berasal dari produk-produk sintetis dan produk-produk yang tidak dirancang
untuk mudah didaur-ulang; perlu dirancang ulang agar sesuai dengan sistem
daur-ulang atau tahapan penghapusan penggunaan.
Program-program sampah
kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin
dibuat sama dengan kota lainnya. Terutama program-program di negara-negara
berkembang seharusnya tidak begitu saja mengikuti pola program yang telah
berhasil dilakukan di negara-negara maju, mengingat perbedaan kondisi-kondisi
fisik, ekonomi, hukum dan budaya. Khususnya sektor informal (tukang sampah atau
pemulung) merupakan suatu komponen penting dalam sistem penanganan sampah yang
ada saat ini, dan peningkatan kinerja mereka harus menjadi komponen utama dalam
sistem penanganan sampah di negara berkembang. Salah satu contoh sukses adalah
zabbaleen di Kairo, yang telah berhasil membuat suatu sistem pengumpulan dan
daur-ulang sampah yang mampu mengubah/memanfaatkan 85 persen sampah yang
terkumpul dan mempekerjakan 40,000 orang.
Secara umum, di negara
Utara atau di negara Selatan, sistem untuk penanganan sampah organik merupakan
komponen-komponen terpenting dari suatu sistem penanganan sampah kota.
Sampah-sampah organik seharusnya dijadikan kompos, vermi-kompos (pengomposan
dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutirisi-nutrisi
yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang masih bisa
didaur-ulang tidak terkontaminasi, yang juga merupakan kunci ekonomis dari
suatu alternatif pemanfaatan sampah. Daur-ulang sampah menciptakan lebih banyak
pekerjaan per ton sampah dibandingkan dengan kegiatan lain, dan menghasilkan
suatu aliran material yang dapat mensuplai industri.
Melalui proses
dekomposisi terjadi proses daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara yang
terkandung dalam bahan atau benda-benda organik yang telah mati, dengan bantuan
mikroba (jasad renik), seperti bakteri dan jamur, akan terurai menjadi hara
yang lebih sederhana dengan bantuan manusia maka produk akhirnya adalah kompos
(compost).
Setiap bahan organik,
bahan-bahan hayati yang telah mati, akan mengalami proses dekomposisi atau
pelapukan. Daun-daun yang gugur ke tanah, batang atau ranting yang patah,
bangkai hewan, kotoran hewan, sisa makanan, dan lain sebagainya, semuanya akan
mengalami proses dekomposisi kemudian hancur menjadi seperti tanah berwarna coklat-kehitaman.
Wujudnya semula tidak dikenal lagi. Melalui proses dekomposisi terjadi proses
daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara yang terkandung dalam bahan atau
benda-benda organik yang telah mati, dengan bantuan mikroba (jasad renik),
seperti bakteri dan jamur, akan terurai menjadi hara yang lebih sederhana
dengan bantuan manusia maka produk akhirnya adalah kompos (compost).
Pengomposan didefinisikan
sebagai proses biokimiawi yang melibatkan jasad renik sebagai agensia
(perantara) yang merombak bahan organik menjadi bahan yang mirip dengan humus.
Hasil perombakan tersebut disebut kompos. Kompos biasanya dimanfaatkan sebagai
pupuk dan pembenah tanah.
Kompos dan pengomposan
(composting) sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Berbagai sumber
mencatat bahwa penggunaan kompos sebagai pupuk telah dimulai sejak 1000 tahun
sebelum Nabi Musa. Tercatat juga bahwa pada zaman Kerajaan Babylonia dan
kekaisaran China, kompos dan teknologi pengomposan sudah berkembang cukup
pesat.
Namun demikian,
perkembangan teknologi industri telah menciptakan ketergantungan pertanian
terhadap pupuk kimia buatan pabrik sehingga membuat orang melupakan kompos.
Padahal kompos memiliki keunggulan-keunggulan lain yang tidak dapat digantikan
oleh pupuk kimiawi, yaitu kompos mampu: • Mengurangi kepekatan dan kepadatan
tanah sehingga memudahkan perkembangan akar dan kemampuannya dalam penyerapan
hara. • Meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air sehingga tanah dapat
menyimpan air lebih ama dan mencegah terjadinya kekeringan pada tanah.• Menahan
erosi tanah sehingga mengurangi pencucian hara. • Menciptakan kondisi yang
sesuai untuk pertumbuhan jasad penghuni tanah seperti cacing dan mikroba tanah
yang sangat berguna bagi kesuburan tanah.
Kelebihan Mengolah
Sampah Organik
Berikut ini beberapa
manfaat pembuatan kompos menggunakan sampah rumah tangga.
- Mampu menyediakan
pupuk organik yang murah dan ramah lingkungan.
- Mengurangi tumpukan
sampah organik yang berserakan di sekitar tempat tinggal.
- Membantu pengelolaan
sampah secara dini dan cepat.
- Menghemat biaya
pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).
- Mengurangi kebutuhan
lahan tempat pembuangan sampah akhir (TPA).
- Menyelamatkan
lingkungan dari kerusakan dan gangguan berupa bau, selokan macet, banjir, tanah
longsor, serta penyakit yang ditularkan oleh serangga dan binatang pengerat.
Kekurangan Mengolah
Sampah Organik
Setelah menjadi pupuk
kompos, pupuk siap untuk digunakan sebagai penyubur tanah. Adapun kekurangan
pupuk kompos adalah unsur hara relatif lama diserap tumbuhan, pembuatannya
lama, dan sulit dibuat dalam skala besar. Oleh karena itu untuk mendukung
peningkatan hasil-hasil pertanian diperlukan pupuk buatan.
Jadi buat lingkungan
anda lebih bermanfaat dengan segala potensi yang ada meskipun hanya sampah yang
dapat dikatakan sebagai barang tak berguna
Regard... Admin